Mahasiswa KKN UIN Alauddin Gelar Penyuluhan Anti Narkoba di Desa Tellu Boccoe

Mahasiswa KKN UIN Alauddin Gelar Penyuluhan Anti Narkoba di Desa Tellu Boccoe

Mahasiswa KKN UIN Alauddin Gelar Penyuluhan Anti Narkoba di Desa Tellu Boccoe

Mahasiswa
Mahasiswa KKN UIN Alauddin memimpin sesi interaktif dengan remaja desa.

Desa Tellu Boccoe, 15 Agustus 2024 — Puluhan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengadakan penyuluhan anti narkoba di Aula Kantor Desa Tellu Boccoe, Kabupaten Sinjai. Program ini menyasar remaja dan orang tua setempat. Mahasiswa menggunakan metode diskusi kelompok dan permainan edukatif. Mereka tidak hanya memberikan ceramah satu arah. Peserta langsung terlibat dalam simulasi pengambilan keputusan. Dengan cara ini, pemahaman tentang bahaya narkoba menguat secara partisipatif.

Mengapa Desa Tellu Boccoe Menjadi Sasaran?

Lokasi desa yang cukup terpencil memicu kekhawatiran para mahasiswa. Data dari BNN Cianjur menunjukkan kurangnya akses informasi anti narkoba di daerah pedesaan. Oleh karena itu, tim KKN memilih Tellu Boccoe sebagai prioritas. Mereka mengidentifikasi banyak anak muda yang menghabiskan waktu tanpa kegiatan positif. Padahal, kerentanan terhadap penyalahgunaan narkoba meningkat drastis di lingkungan yang minim pengawasan. Mahasiswa segera bergerak cepat. Mereka merancang materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pola interaktif menjadi senjata utama mereka.

Sesi Pembukaan yang Membakar Semangat

Koordinator KKN, Andi Rahmat, memulai acara dengan pertanyaan sederhana: “Siapa yang punya mimpi besar?” Jawaban spontan dari remaja langsung memecah kebekuan. Ia kemudian menjelaskan bagaimana narkoba menghancurkan masa depan. Tanpa basa-basi, para mahasiswa menyajikan data nyata. Mereka menunjukkan statistik pengguna narkoba di Sulawesi Selatan. Angka itu membuat peserta merenung. Suasana berubah serius. Namun, mahasiswa segera menyuntikkan humor ringan. Mereka ingin pesan tetap membekas tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan. Pendekatan ini berhasil menarik perhatian penuh selama dua jam.

Kami tidak ingin hanya menggurui, tetapi kami ingin mereka sendiri yang menyatakan saya berani menolak narkoba. Itu jauh lebih kuat. — Andi Rahmat, Koordinator KKN.

Metode Edukasi: Simulasi dan Role-Play

Mahasiswa membagi peserta ke dalam lima kelompok. Setiap kelompok mendapat skenario berbeda. Ada skenario teman mengajak mencoba narkoba di pesta. Ada pula skenario tekanan dari senior di sekolah. Para remaja memerankan diri mereka sendiri. Mereka harus mencari cara menolak tanpa merusak pertemanan. Setiap kelompok mempresentasikan solusi mereka. Hasilnya? Sebagian besar remaja memilih tegas menolak dengan alasan agama dan masa depan. Mahasiswa juga memperkenalkan keterampilan asertif. Mereka melatih peserta untuk berkata tidak tanpa merasa bersalah. Latihan ini mendapat respons antusias.

Peran Aktif Tokoh Masyarakat dan Orang Tua

Kepala Desa Tellu Boccoe, Bapak Jumadin, turut hadir dan memberikan sambutan. Ia menekankan pentingnya kerjasama antara kampus dan desa. Orang tua juga tidak ketinggalan. Mereka mengikuti sesi khusus tentang deteksi dini perubahan perilaku anak. Mahasiswa mengajarkan cara mengamati ciri-ciri fisik dan psikis pengguna narkoba. Orang tua bergantian bertanya. Mereka khawatir jika anak-anak mereka terpapar tanpa sepengetahuan. Para mahasiswa menjawab dengan tenang dan berbasis bukti. Mereka membagikan brosur yang merujuk pada data dari Wikipedia tentang narkotika serta panduan pencegahan dari BNN.

Membangun Jaringan Dukungan Anti Narkoba

Tidak berhenti di penyuluhan satu hari. Mahasiswa KKN UIN Alauddin membentuk kelompok Sahabat Anti Narkoba yang terdiri dari remaja desa. Kelompok ini akan menjadi motor kampanye lanjutan. Mereka mendapat buku panduan sederhana dan nomor kontak layanan konseling. Para mahasiswa juga meninggalkan modul untuk guru ngaji dan ketua pemuda. Dengan demikian, edukasi terus berjalan meskipun KKN berakhir. Langkah ini memastikan keberlanjutan program. Remaja desa kini memiliki tanggung jawab moral untuk menyebarkan informasi ke teman-teman mereka.

Dampak Langsung: Perubahan Sikap Peserta

Sebelum penyuluhan, mayoritas remaja mengaku tidak tahu cara menolak narkoba secara efektif. Setelah sesi, survei kecil menunjukkan peningkatan keyakinan hingga 78%. Para peserta dengan percaya diri menyebutkan alasan mereka menolak. Alasan utama adalah agama dan cita-cita. Mahasiswa mencatat perubahan ini sebagai keberhasilan. Mereka juga mengobservasi interaksi informal saat istirahat. Para remaja saling bertukar nomor telepon. Mereka berjanji untuk saling mengingatkan. Inilah dampak nyata dari pendekatan partisipatif. Informasi tidak hanya masuk di kepala, tetapi mengendap di hati.

Tantangan di Lapangan: Antusiasme vs. Keterbatasan Waktu

Cuaca panas dan keterbatasan sound system sempat mengganggu konsentrasi. Mahasiswa berimprovisasi dengan membentuk lingkaran kecil. Mereka meminjam pengeras suara dari masjid desa. Karena waktu terbatas, mereka memotong sesi tanya jawab menjadi lebih dinamis. Setiap pertanyaan langsung dijawab dengan contoh konkret. Tantangan lain adalah kurangnya partisipasi dari beberapa remaja pemalu. Mahasiswa menggunakan teknik ice breaking dengan hadiah kecil. Trik ini berhasil. Bahkan remaja paling pemula sekalipun akhirnya angkat bicara. Ketekunan mahasiswa patut diacungi jempol.

Kolaborasi dengan Aparat Desa dan Polsek

Bhabinkamtibmas Tellu Boccoe, Brigadir Ahmad, memberikan materi tambahan tentang sanksi hukum. Ia menjelaskan Pasal 111 dan 112 UU Narkotika. Peserta mendengarkan dengan saksama. Mahasiswa kemudian menghubungkan regulasi dengan dampak sosial. Mereka menekankan bahwa penjara bukan satu-satunya akibat. Kehilangan kepercayaan keluarga dan masyarakat juga menjadi hukuman berat. Kolaborasi ini memperkuat pesan bahwa narkoba bukan hanya persoalan individu, tetapi komunitas.

Pemanfaatan Media Sosial untuk Kampanye Digital

Mahasiswa juga merekam video pendek berisi testimoni peserta. Video itu diunggah di Instagram dan TikTok. Mereka menggunakan tagar #TelluBoccoeAntiNarkoba. Konten tersebut langsung mendapat ribuan tayangan. Remaja desa ikut membagikan video ke grup WhatsApp mereka. Strategi ini memperluas jangkauan edukasi. Mereka memanfaatkan kebiasaan digital generasi Z. Daripada melarang, mahasiswa menjadikan media sosial sebagai alat kampanye. Hasilnya, pesan anti narkoba menyebar lebih cepat daripada informasi hoaks.

Kesimpulan: Aksi Nyata Melampaui Kata-Kata

Program penyuluhan anti narkoba ini membuktikan bahwa edukasi partisipatif mengubah perilaku. Mahasiswa KKN UIN Alauddin tidak hanya datang dan pergi. Mereka meninggalkan struktur, jejaring, dan semangat. Desa Tellu Boccoe kini memiliki agen perubahan yang siap melanjutkan misi. Untuk informasi lebih lanjut tentang strategi pencegahan NAPZA, pembaca dapat mengunjungi Portal BNN Cianjur atau membaca referensi Wikipedia tentang narkotika. Langkah kecil para mahasiswa ini menjadi titik balik bagi generasi desa. Mereka melangkah dengan keyakinan. Dan sepertinya, tidak ada kata mundur.

Artikel ini ditulis oleh tim dokumentasi KKN UIN Alauddin, 2024.

Baca Juga:
Lapas Kerobokan Razia 12 Kamar Hunian, Libatkan TNI-Polri dan BNN

Tinggalkan Balasan